Kajian Literatur Tawuran
Kajian Literatur ini memuat tentang cara mengatasi tawuran, faktor terjadinya tawuran, penyebab terjadinya perundungan.pada kajian literatur cara mengatasi tawuran, penulis menggunakan hasil penelitian terdahulu dari Anis Boehari Jurnal Pelita Bumi Pertiwi 2 (02), 28-4,( 2021), kemudian hasil penelitian dari Yosia Benaya Parasmaswasti (2023),lalu yang terakhir penelitian dari Mira Laharisa (2019). untuk kajian literatur faktor terjadinya perundungan,penulis ,penulis menggunakan hasil penelitian dari Icha Nurrohmah dkk, kemudian hasil dari Tesalonika Tambunan(2023),lalu yang terakhir penelitian dari Siti Fatimah (2014). untuk kajian literatur penyebab terjadinya tawuran , penulis menggunakan hasil penelitian dari Ubaidillah Wahid Romadhon (2023), kemudian hasil penelitian dari Edy Kurniawansyah(2022).
Cara mengatasi tawuran
Menurut: Anis Boehari Jurnal Pelita Bumi Pertiwi 2 (02), 28-4,( 2021)
Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tawuran antarpelajar di SMK PGRI 1 Kota Serang (a) disebabkan oleh faktor psikologis, lingkungan keluarga yang tidak kondusif, kurangnya penanaman nilai-nilai karakter yang berbasis agama, tidak dapat memanfaatkan waktu luang dengan baik, serta pengaruh teman sebaya terhadap perilaku negatif. (b) Upaya yang dilakukan kepolisian kecamatan kota Serang mengutamakan upaya preventif.
Menurut Yosia Benaya Parasmaswasti (2023)Upaya represif yang dilakukan pihak sekolah yaitu memberikan nasehat dan teguran, memberikan hukuman ringan, pemanggilan orang tua, serta melakukan tindakan kuratif yaitu dengan melakukan skorsing dan pengembalian kepada orang tua. Upaya preventif yang dilakukan pihak kepolisian meliputi: melaksanakan giat Police Goes to School, giat razia, patroli rutin malam hari, razia miras, bekerjasama dengan sekolah, masyarakat dan orang tua. Upaya represif yang dilakukan yaitu melakukan pembinaan kepada siswa yang terlibat, memanggil orang tua dan memberi arahan kepada orang tua agar lebih mengawasi anak saat di rumah. Upaya yang telah dilakukan sekolah dan pihak kepolisian dalam meminimalisir terjadinya tawuran antar pelajar di Kabupaten Magelang khususnya SMA N 1 Salaman sudah berhasil dilakukan, karena saat ini SMA N 1 Salaman tidak pernah terlibat dalam tawuran antar pelajar.
Menurut Mira Laharisa (2019)Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanan sanksi dalam mengatasi tawuran pelajar di SMK Kartika 1-2 Padang meliputi 3 tahap diantaranya teguran. Teguran merupakan memberitahu dan memperingati seseorang dalam hal ini memperingati seorang pelajar bahwa tindakannya adalah tindakan yang salah dan diharapkan tidak akan mengulanggi lagi yang dilakukan oleh pihak sekolah SMK Kartika 1-2 Padang dalam mengatasi tawuran pelajar. Kedua, melakukan pemanggilan bagi pelajar yang melukan tawuran pelajar merupakan surat panggilan yang disampaikan oleh pihak sekolah SMK Kartika 1-2 Padang. Ketiga mengeluarkan siswa dari sekolah sebagai salah satu wujud dari nilai norma yang ada. Tujuan agar pelaksanan sanksi dalam mengatasi tawuran akan berjalan dengan baik.
Faktor terjadinya tawuran
Menurut: Icha Nurrohmah, Tarisa Putri, Sindi Rahayu, Shyelora Aurel, Yuni Sukmawati.
Dari hasil penelitian tentang faktor penyebab dan bagaimana cara pemecahan tawuran bahwa Pendidikan nilai moral afektif yang dilakukan di sekolah dan kampus sangat bermanfaat bagi siswa dan mahasiswa dalam pengembangan dan membentuk sikap siswa dan mahasiswa agar memiliki nilai–nilai moral yang baik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pembelajaran Pendidikan Pancasila sangat dimungkinkan adanya pengintegrasian nilai moral sebagai upaya pendidikan untuk menuju perbaikan kualitas moral bangsa Indonesia. Pengintegrasian nilai moral melalui Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di sekolah maupun dikampus sudah di terapkan dengan baik selain itu guru dan dosen PPKn memiliki peran yang sangat penting dalam proses pembelajaran yaitu dari segi keilmuan dan juga memperbaiki dalam membina moral dari peserta didik.
Menurut: Tesalonika Tambunan(2023) Data yang dikumpulkan melibatkan identifikasi faktor-faktor yang berkaitan dengan tawuran dan kekerasan, seperti latar belakang sosial ekonomi, motivasi pelaku, pengaruh teman sebaya, dan faktor lingkungan kampus. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang masalah tawuran dan kekerasan antar mahasiswa di kampus, serta memberikan panduan kepada perguruan tinggi dalam mengembangkan strategi pencegahan dan intervensi yang efektif. Kesimpulan dari skripsi ini akan memberikan wawasan yang berharga bagi lembaga-lembaga pendidikan tinggi dan pihak terkait untuk menciptakan lingkungan kampus yang aman dan mendukung perkembangan akademik dan sosial mahasiswa
Menurut Siti Fatimah (2014)Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor penyebab kenakalan remaja di desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah remaja, orang tua, dan tokoh masyarakat di Desa Kemadang Kecamatan Tanjungsari Kabupaten Gunungkidul, dan objek penelitiannya adalah faktor-faktor penyebab kenakalan remaja di Desa Kemadang Kecamatan Tanjungsari Kabupaten Gunungkidul. Peneliti mengembangkan instrument penelitian berdasarkan variabel faktor-faktor kenakalan remaja menurut Willis, bahwa kenakalan remaja itu disebabkan oleh empat faktor yaitu; faktor-faktor di dalam diri anak itu sendiri, faktor-faktor di rumah tangga, faktor-faktor di masyarakat, dan faktor-faktor yang berasal dari sekolah. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara. Teknik analisis data menggunakan langkah-langkah pengumpulan data, reduksi data, klasifikasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor penyebab kenakalan remaja yang paling dominan di Desa Kemadang, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul adalah faktor-faktor dari dalam diri anak sendiri, yaitu lemahnya pertahanan diri pada remaja, dan adanya pengaruh dari teman bermain atau sebaya.
Penyebab terjadinya tawuran
Menurut Ubaidillah Wahid Romadhon (2023) Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, dengan teknik pengumpulan data diperoleh dari observasi,wawancara dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa terdapat 2 faktor penyebab yang terjadi saat fenomena tawuran yaitu faktor intenal seperti memilki kontrol diri lemah, fanatisme tinggi dan tidak bisa memahami ajaran perguruan silat sedangkan faktor eksternal seperti rivalitas perguruan silat, tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, terdapat oknum yang tidak bertanggungjawab.
Menurut Diana Imawati( 2018) peneliti ini adalah ingin mengetahui penyebab mengapa remaja suka melakukan tawuran. Hasil dari penelitian adalah (1). Terdapat remaja atau anak-anak muda Kayutangi dalam pengelompokan atau gank dan mereka mudah terpancing emosi,(2). Remaja membawa pisau dan sejenisnya. Ketika polisi tahu mereka pergi ke lokasi yang bersangkutan untuk mengamankan situasi dengan menangkap mereka.
Menurut Edy Kurniawansyah(2022) Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apa penyebab terjadinya kekerasan terhadap anak di Kabupaten Sumbawa. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data yaitu wawancara, observasi dan dokumentasi. Pengolahan data akan dianalisis dan diolah secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa penyebab terjadinya kekerasan terhadap anak yaitu timbulnya hasrat seksual secara alamiah yang tidak diiringi pengendalian diri, kurangnya pengawasan orang tua terhadap anak, pergaulan bebas, kondisi ekonomi, pengaruh media pornografi dan pengaruh lingkungan
Daftar pustaka
Boehari, A. (2021). Peran Kepolisian Dalam Mengatasi Tawuran Pelajar (Studi Kasus di SMK PGRI 1 Kota Serang). Jurnal Pelita Bumi Pertiwi, 2(02), 28-40.Dalam
https://jurnal.upg.ac.id/index.php/jpbp/article/view/127
(Diakses pada tanggal 6 maret 2024 , pukul 08.58 WIB)
Paramaswasti, Y. B., Mediatati, N., & Nugraha, A. B. (2023). Upaya Preventif dan Represif Pihak Kepolisian dan Sekolah dalam Mengatasi Tawuran Antar Pelajar. JIIP-Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 6(7), 5291-5300.
http://jiip.stkipyapisdompu.ac.id/jiip/index.php/JIIP/article/download/2525/2050
(Diakses pada tanggal 7 Maret 2024 pukul 12.45)
Laharisa, M., & Muchtar, H. (2019). Pelaksanaan Sanksi dalam Mengatasi Tawuran Pelajar di SMK Kartika 1-2 Padang. Journal of Civic Education, 2(4), 397-404.
(Diakses pada tanggal 7 Maret 2024 pukul 12.49)
Nurrohmah, I., Putri, T., Rahayu, S., Aurel, S., & Sukmawati, Y. RENDAHNYA PEMAHAMAN NILAI PANCASILA: FAKTOR PENYEBAB DAN PEMECAH TAWURAN PELAJAR DAN MAHASISWA.dalam
https://journal.ummat.ac.id/journals/10/articles/15940/supp/15940-52204-2-SP.doc
(Diakses pada tanggal 6 Maret 2024 pukul 09.07 WIB).
TAMBUNAN, T. (2023). ANALISIS FAKTOR PENYEBAB TAWURAN DAN KEKERASAN ANTAR MAHASISWA.
.https://repository.uhn.ac.id/handle/123456789/9775
(Diakses pada tanggal 6 Maret 2024 pukul 09.51)
Fatimah, S., & Umuri, M. T. (2014). Faktor-faktor penyebab kenakalan remaja di desa kemadang kecamatan tanjungsari kabupaten gunungkidul. Jurnal Citizenship, 4(1), 87-95.
(Diakses pada tanggal 6 Maret 2024 pukul 10.02)
Romadhon, U. W. (2023). Peranan Tokoh Masyarakat Dalam Mencegah Tawuran (Studi Kasus Pasca Tawuran IKSPI Kera Sakti Dan PSHT Di Desa Gondanglor Kecamatan Sugio Kabupaten Lamongan)” (Doctoral dissertation, IAIN Kediri).
http://etheses.iainkediri.ac.id/9490/2/933710519_bab1.pdf
(Diakses pada tanggal 6 Maret 2024 pukul 10.11)
Imawati, D. (2018). Latar belakang penyebab tawuran pada remaja. MOTIVA: JURNAL PSIKOLOGI, 1(1), 73-77.
http://ejurnal.untag-smd.ac.id/index.php/MV/article/viewFile/3500/3383
(Diakses pada tanggal 6 Maret 2024 pukul 10.15)
Kurniawansyah, E., & Dahlan, D. (2022). Penyebab Terjadinya Kekerasan Terhadap Anak (Studi Kasus di Kabupaten Sumbawa). CIVICUS: Pendidikan-Penelitian-Pengabdian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, 9(2), 30-35.
https://journal.ummat.ac.id/index.php/CIVICUS/article/download/6866/pdf (Diakses pada tanggal 7 Maret 2024 pukul 06.57)